Jumat, 14 Maret 2014
Minggu, 20 Oktober 2013
Write Your Idea, Please!! Gak Usah Takut Menulis, Friend!
http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/21/write-your-idea-please-gak-usah-takut-menulis-friend-585432.htmlSejak dulu, aku suka menulis cerita dan puisi. Cerita-cerita
sederhana dan puisi-puisi singkat. Tetapi, aku tidak punya keberanian
untuk menunjukkan kepada orang lain. Berbagai perasaan menghantui
hatiku. Jangan-jangan tulisanku jelek, jangan-jangan bahasaku gak
sesuai, jangan-jangan aku nanti ditertawakan oleh mereka yang membaca
tulisanku. Berbagai kata “jangan-jangan” seolah membelenggu keberanianku
untuk mempublikasikan tulisan-tulisanku.
Suatu hari, seorang sahabat mengingatkan aku. “Lis, be a creative, jangan diam saja. Write your idea, please!!” Lha aku khan sudah banyak menuliskan ide-ideku, jawabku. Temanku malah mencela aku “Lha gae opo tulisan-tulisan itu klo cuma kamu doang yang baca. Kalau ada orang lain yang baca, setidaknya khan ada yang kamu tulari semangat menulismu”
Deg!! Sebuah sentilan yang cukup men”colek” egoku. Iya ya,,,,kalau aku tetap malu dan dibayangi kata-kata “jangan-jangan”, semua karya tulisku bakalan berakhir di tempat sampah atau di laptopku doang. Aku harus berani, ,,,,,, berani menanggung malu, maksudku!
Awal, kucoba mengcopy pengalaman mengajarku di catatan akun facebookku. Wow,,,,,,ternyata banyak komentar dari teman-temanku yang membuat aku bersemangat. Yes yes yes,,,,,,,, rasa malu itu langsung hilang, berganti dengan kegembiraanku menuliskan setiap peristiwa yang berkesan dalam keseharianku.
Tulisan demi tulisan aku tuang dalam catatan akun facebook ku. Sebuah catatan kupersembahkan kepada ibuku. Beliau ingin sekali aku menuliskan perjalanan hidupnya sebagai guru.
Pelajaran yang dapat aku petik adalah jangan pernah takut untuk memulai. Ketakutan untuk memulai adalah ibarat melihat pada sebuah pintu tertutup. Ketika masih tertutup, ada bayangan-bayangan tentang hantu si “entah” di balik pintu itu. Tetapi ketika kita membuka pintu itu, tak kita temukan apa-apa, bayangan-bayangan itu hanyalah imajinasi semu kita.
Pelajaran kedua, kalau ingin menulis,,,, ya tulis saja. Soal ejaan dan bahasa, bisa diperbaiki kemudian. Kalau tidak bisa menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baku, ya tulis aja dalam bahasa yang kita pakai.
Pelajaran ketiga, inti dari menulis kan tersampaikannya ide kita pada pembaca. So,,,,,baik atau jelek tulisan kita,,,,so what gitu lho!!! Woles aja!! (http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/21/write-your-idea-please-gak-usah-takut-menulis-friend-585432.html)
Suatu hari, seorang sahabat mengingatkan aku. “Lis, be a creative, jangan diam saja. Write your idea, please!!” Lha aku khan sudah banyak menuliskan ide-ideku, jawabku. Temanku malah mencela aku “Lha gae opo tulisan-tulisan itu klo cuma kamu doang yang baca. Kalau ada orang lain yang baca, setidaknya khan ada yang kamu tulari semangat menulismu”
Deg!! Sebuah sentilan yang cukup men”colek” egoku. Iya ya,,,,kalau aku tetap malu dan dibayangi kata-kata “jangan-jangan”, semua karya tulisku bakalan berakhir di tempat sampah atau di laptopku doang. Aku harus berani, ,,,,,, berani menanggung malu, maksudku!
Awal, kucoba mengcopy pengalaman mengajarku di catatan akun facebookku. Wow,,,,,,ternyata banyak komentar dari teman-temanku yang membuat aku bersemangat. Yes yes yes,,,,,,,, rasa malu itu langsung hilang, berganti dengan kegembiraanku menuliskan setiap peristiwa yang berkesan dalam keseharianku.
Tulisan demi tulisan aku tuang dalam catatan akun facebook ku. Sebuah catatan kupersembahkan kepada ibuku. Beliau ingin sekali aku menuliskan perjalanan hidupnya sebagai guru.
Pelajaran yang dapat aku petik adalah jangan pernah takut untuk memulai. Ketakutan untuk memulai adalah ibarat melihat pada sebuah pintu tertutup. Ketika masih tertutup, ada bayangan-bayangan tentang hantu si “entah” di balik pintu itu. Tetapi ketika kita membuka pintu itu, tak kita temukan apa-apa, bayangan-bayangan itu hanyalah imajinasi semu kita.
Pelajaran kedua, kalau ingin menulis,,,, ya tulis saja. Soal ejaan dan bahasa, bisa diperbaiki kemudian. Kalau tidak bisa menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baku, ya tulis aja dalam bahasa yang kita pakai.
Pelajaran ketiga, inti dari menulis kan tersampaikannya ide kita pada pembaca. So,,,,,baik atau jelek tulisan kita,,,,so what gitu lho!!! Woles aja!! (http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/21/write-your-idea-please-gak-usah-takut-menulis-friend-585432.html)
Rabu, 28 Agustus 2013
Selasa, 27 Agustus 2013
Senin, 06 Mei 2013
MENGAJAR DENGAN HATI
MENGAJAR
DENGAN HATI
Oleh
Lilis
Setiyorini, S.Pd
SMP
Negeri 2 Benjeng
A.
MENGAJAR
Seorang
guru harus memiliki kemampuan mengajar. Kemampuan mengajar selain merupakan
bakat juga bisa merupakan keahlian yang dapat dipelajari sehingga pada dasarnya
semua orang bisa menjadi guru. Salah satu ilmu yang dipelajari dalam menambah
kemampuan mengajar adalah kemampuan menghadapi siswa yang beragam. Guru harus
mampu mengakomodir semua keinginan siswanya.
Mengajar pada
prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar. Mengajar merupakan usaha mengorganisasikan
lingkungan dalam hubungannya dengan siswa dan bahan pengajaran, sehingga
terjadi proses belajar mengajar. Guru berupaya menciptakan kondisi yang
kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar bagi para siswa.
Mengajar adalah segala
upaya yang disengaja dalam rangka memberi kemungkinan bagi siswa untuk
terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Karenanya
belajar merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya sekedar menyampaikan
informasi dari guru kepada siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan,
terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh peserta
didiknya. (http://wawan-junaidi.blogspot.com/2011/02/pengertian-mengajar.html)
Menurut Raka Joni
(dalam Sardiman , 2003:54) : Mengajar adalah menyediakan kondisi optimal yang
merangsang serta mengerahkan kegiatan belajar anak didik untuk memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan nilai atau sikap yang dapat membawa perubahan
tingkah laku maupun pertumbuhan sebagai pribadi.
(http://carapedia.com/pengertian_definisi_mengajar_info2155.html)
Tujuan mengajar adalah
agar pengetahuan yang disampaikan itu dapat dipahami siswa. Dalam proses ini,
ada individu-individu berperan yaitu
siswa itu sendiri dan guru sebagai pengajar.
B.
KARAKTERISTIK SISWA SEKOLAH MENENGAH
PERTAMA
Siswa SMP berada pada fase masa remaja (pubertas)
awal. Fase-fase masa remaja (pubertas) menurut yaitu antara umur 12 – 21 tahun,
dengan pembagian 12-15 tahun termasuk masa remaja awal, 15-18 tahun termasuk
masa remaja pertengahan, 18-21 tahun termasuk masa remaja akhir. (Ahmadi,
A. 1991)
Karakteristik anak remaja bisa dilihat dalam beberapa
aspek, yaitu dari pertumbuhan fisik, perkembangan seksual, cara berfikir
kausalitas, emosi yang meluap-luap, perkembangan sosial, perkembangan moral dan
perkembangan kepribadian. (http://jagad-ilmu.blogspot.com/2009/08/karakteristik-anak-usia-smp-remaja-bab.html)
Pada fase ini, siswa ingin dipahami, bukan didoktrin
“kamu harus ini, kamu harus itu”. Keteladanan dan kasih sayang menjadi hal yang
sangat signifikan dalam pembentukan karakternya. Dengan memahami karakteristik
siswa, diharapkan terbentuk kepribadian yang terpadu untuk bisa beradaptasi
dengan lingkungan.
C.
MENGAJAR DENGAN HATI
Guru adalah sebuah profesi yang
sangat istimewa. Segala perilaku dan
tutur guru akan menjadi tauladan bagi siswa. Wawasan dan keahliannya akan membentuk
pandangan dan sikap siswa terhadap kehidupan. Tetapi banyak guru yang merasa bahwa profesinya kalah hebat dari profesi yang lain.
Jika rasa bangga tidak ada dalam
benak setiap guru maka akan berdampak kepada kinerja dan profesinalitasnya.
Mereka akan cenderung asal bekerja dan apa adanya tanpa kreativitas, kurang
bertanggung jawab dan selalu mengeluh dan menyalahkan siswa. Karena rasa bangga
sebenarnya akan melahirkan rasa kecintaan terhadap profesi, tanpa rasa cinta
terhadap profesi ini maka setiap guru tidak akan bisa bekerja dengan hati. Guru
adalah profesi yang banyak berkomunikasi. Komunikasi akan efektif jika dilakukan dengan sepenuh hati.
Berbeda dengan seorang guru yang
memiliki rasa kebanggaan akan profesi yang digelutinya, hatinya akan penuh
dengan ketulusan dan kesungguhan. Hati mereka penuh rasa cinta kepada semua siswanya,
kreativitas akan terus mereka gali, mereka akan terus belajar tanpa henti, dan
menciptakan inovasi-inovasi dan media-media belajar yang dapat memudahkan
peserta didiknya dalam belajar.
Guru harus bangga menjadi seorang
guru. Guru harus melakukan tugasnya dengan hati, adapun faktor-faktor lain
harus dipandang sebagai akibat.
Seorang guru yang mengajar dengan
hati selalu mau tahu dan belajar segala hal yang baru soal pendidikan, tidak
mudah patah semangat oleh konflik, punya kehidupan lain setelah mengajar, sabar
soal kesejahteraan , mengartikan semua hal sebagai kesempatan belajar, hormat
pada senior, dan mau berbagi dengan yunior, punya persiapan sebelum mengajar, punya
jurus ampuh menguasai kelas, selalu mengevaluasi hasil mengajarnya, tidak
melulu menyalahkan siswa atau guru sebelumnya atas sebuah kegagalan yang
dialaminya dan memberikan contoh yang baik bagi anak didiknya
Pada dasarnya, guru yang mengajar
dengan hati, menempatkan keteladanan dan kasih sayang sebagai dasar dan pijakan
dalam mendidik.
D.
PENUTUP
Tanggung jawab guru tidak hanya pada
tataran administrasi dan kelembagaan/kedinasan bagaimana siswanya bisa lulus
dari suatu jenjang pendidikan atau memperoleh nilai-nilai yang mengacu pada Standar
Kompetensi Lulusan. Tetapi bagaimana guru memberi makna pada proses kegiatan
belajar yang dialami siswa. Mengajar dengan hati, akan memberi makna bagi
proses tersebut. Menempatkan keteladanan dan kasih sayang sebagai dasar dan
pijakan dalam mendidik, akan menjadi
hal yang sangat signifikan dalam pembentukan karakter siswa
Selasa, 05 Maret 2013
Senin, 04 Maret 2013
MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN KETERLIBATAN SISWA DALAM PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN
MENINGKATKAN
KUALITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN KETERLIBATAN SISWA DALAM PEMBUATAN MEDIA PEMBELAJARAN
Disusun
oleh :
Lilis
Setiyorini, S.Pd
SMP
Negeri 2 Benjeng
A.
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Tujuan pembelajaran matematika adalah terbentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis , sistematis, dan memiliki sifat obyektif , jujur, disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, keadaan di lapangan belumlah sesuai dengan yang diharapkan. Pembelajaran dan pemahaman siswa SMP terhadap matematika menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Pembelajaran matematika di SMP cenderung ceramah dan kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari siswa. Pembelajaran cenderung abstrak dan dengan metode ceramah sehingga konsep-konsep akademik kurang bisa atau sulit dipahami.
Sementara itu kebanyakan guru dalam mengajar masih kurang memperhatikan kemampuan berpikir siswa, pembelajaran kurang bermakna bagi siswa, monoton, metode yang digunakan kurang bervariasi, kurangnya media pembelajaran. Akibatnya kebosanan tumbuh pada siswa sehingga minat dan motivasi belajar siswa menjadi sulit dikembangkan. Mencermati hal tersebut di atas, sudah satnya untuk diadakan pembaharuan, inovasi ataupun gerakan perubahan mindset ke arah pencapaian tujuan pendidikan di atas. Pembelajaran matematika hendaknya lebih bervariasi metode maupun strateginya guna mengoptimalkan potensi siswa. Upaya-upaya guru dalam mengatur dan memberdayakan berbagai variabel pembelajaran, merupakan bagian penting dalam keberhasilan siswa mencapai tujuan yang direncanakan. Karena itu pemilihan metode, strategi dan pendekatan dalam mendesain model pembelajaran guna tercapainya iklim pembelajaran aktif yang bermakna adalah tuntutan yang mesti dipenuhi bagi para guru. Siswa diarahkan pada kegiatan pembelajaran yang bisa membawa perubahan pada dirinya secara terencana. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, antara lain: guru, bahan/materi, berbagai sumber belajar, dan media pembelajaran. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar. Siswa bisa belajar melalui media. Karena itu, siswa dapat berinteraksi dengan media atau sumber belajar lain. Guru dituntut untuk mampu memilih, membuat sendiri atau menggunakan media yang ada secara tepat, dan efisisien. Semua yang ada di sekeliling kita adalah media. Tugas guru adalah sejauh mana bisa memanfaatkan benda yang ada di sekitar kita menjadi media yang tepat, sehingga pembelajaran berlangsung secara efektif dan mampu memberikan hasil yang maksimal.
B.
MEDIA PEMBELAJARAN
Kata Media sendiri berasal dari
bahasa Latin medius dan merupakan
bentuk jamak dari kata Medium yang
secara harfiah berarti “perantara“ atau “pengantar”. Media merupakan wahana penyalur
informasi belajar atau penyalur pesan. Beberapa pakar mendefinisikan media pembelajaran
ini
sebagai seluruh alat dan bahan yang dapat
dipakai untuk media pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah
dan sebagainya (Rossi & Breidle, 1966: 3), Media merupakan teknologi pembawa pesan yang dapat
dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran Scram (1977). Sementara, NEA, 1969 mengemukakan media
merupakan sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk
teknologi perangkat kerasnya. Briggs (1970) berpendapat media adalah bantu
untuk memberikan perangsang bagi peserta didik supaya terjadi proses belajar.
Lain lagi dengan pendapat Miarso (1989)
bahwa media adalah segala sesuatu
yang dapat dipergunakan untuk menyalurkan pesan yang dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan kemauan peserta didik untuk belajar
Dari berbagai pendapat di atas, dapat
disimpulkan bahwa para pakar memposisikan media sebagai suatu alat atau
sejenisnya yang dapat dipergunakan sebagai pembawa pesan dalam suatu kegiatan
pembelajaran. Pesan yang dimaksud adalah materi pelajaran, dimana keberadaan
media tersebut dimaksudkan agar pesan dapat lebih mudah dipahami dan dimengerti
oleh peserta didik. Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media
dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak
didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
C. KETERLIBATAN SISWA DALAM PEMBUATAN
MEDIA PEMBELAJARAN
Dalam
teori belajar konstruktivisma pengetahuan
tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan.
Bahkan, perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif
memanipulasi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sedangkan, perkembangan
kognitif itu sendiri merupakan proses berkesinambungan tentang keadaan
ketidak-seimbangan dan keadaan keseimbangan (Poedjiadi, 1999: 61). Pengetahuan
tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa.
Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur
pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata
lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan
berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.
Ada
tiga hal yang harus menjadi perhatian Pertama adalah peran aktif siswa dalam
mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat
kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah
mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Dua prinsip utama
dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme.
Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif
oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan
membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Dalam
pembelajaran berdasarkan teori kontruktivisme, guru harus
- memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri,
- memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif,
- memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru
- memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa,
- mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka,
- menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih
menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka.
Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan
dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk
mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.
Untuk dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam
proses belajar mengajar guru dapat mengkondisikan
keterlibatan secara langsung siswa baik secara individual maupun kelompok,
penciptaan peluang yang mendorong siswa untuk melakukan eksperimen, upaya
mengikutsertakan siswa atau memberi tugas kepada siswa untuk memperoleh
informasi dari sumber luar kelas atau sekolah serta upaya melibatkan siswa
dalam merangkum atau menyimpulkan pesan pembelajaran.
Keterlibatan siswa ini diantaranya berupa pembuatan media
pembelajaran baik yang berupa display maupun yang berbasis ICT. Dengan pembuatan
media pembelajaran oleh siswa dimaksudkan agar siswa mampu mengkontruksi
sendiri pengalaman belajarnya. Hasil dari pengkontruksian pengalaman
belajarnya, dapat dituangkan secara nyata kedalam media pembelajaran. Dengan
melibatkan siswa secara langsung, pengalaman belajarnya menjadi lebih bermakna
dan berkualitas. Hal yang tak kalah pentingnya adalah kebanggaan yang dimiliki
oleh siswa karena karyanya dapat dipajang dan didokumentasikan.
D.
PENUTUP
Media pembelajaran merupakan hal yang penting dan tidak boleh
dilupakan dalam setiap proses pembelajaran. Pemilihan media pembelajaran yang
sesuai sangat bermakna dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika,
disamping faktor –faktor yang lain.
Keterlibatan siswa dalam pembuatan media pembelajaran
diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang tidak membosankan dan bermakna
bagi siswa.
Langganan:
Postingan (Atom)











